Menteri Wihaji Tekankan Pentingnya Ketahanan Keluarga dan Komunikasi Orang Tua-Anak dalam Program GEMAR di Yogyakarta



PAK MENTERI KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA/KEPALA BKKBN

Yogyakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., memberikan pemaparan inspiratif dalam kegiatan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah) yang diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Wihaji menegaskan bahwa peran keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang tangguh di tengah tantangan perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat.

Mengawali sambutannya dengan suasana hangat dan penuh keakraban, Wihaji memperkenalkan dirinya sebagai alumni Madrasah Aliyah Negeri 1 Surakarta (MAN 1 Surakarta). Ia menyampaikan bahwa dirinya merasa dekat dengan para peserta yang hadir, baik sebagai sesama orang tua maupun sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan.

Menurut Wihaji, banyak masyarakat yang masih mempertanyakan keterlibatan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dalam kegiatan pendidikan di sekolah. Menjawab hal tersebut, ia menjelaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya memiliki dua fokus utama, yakni kependudukan dan pembangunan keluarga.

“Inti dari kependudukan adalah stabilitas keluarga, sedangkan pembangunan keluarga berfokus pada ketahanan keluarga. Karena keluarga merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam negara, maka segala persoalan bangsa sesungguhnya bermula dari keluarga,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Wihaji menyoroti pengaruh besar media sosial dan teknologi digital terhadap kehidupan anak-anak dan remaja saat ini. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan berbagai survei, rata-rata pelajar tingkat SMA di Indonesia menghabiskan waktu antara 8 hingga 10 jam per hari menggunakan telepon genggam.

“Mulai bangun tidur, sebelum sekolah, saat makan, bahkan menjelang tidur, handphone selalu berada di tangan mereka. Sementara waktu yang digunakan orang tua untuk berbicara dengan anak sering kali jauh lebih sedikit,” katanya.

Ia menilai bahwa komunikasi dalam keluarga saat ini sering kali terbatas pada pertanyaan-pertanyaan rutin seperti apakah anak sudah makan, sudah salat, mengerjakan pekerjaan rumah, atau membutuhkan uang saku. Padahal, menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang dialog yang lebih mendalam untuk berbagi cerita, perasaan, dan pengalaman mereka sehari-hari.

Lebih lanjut, Wihaji menjelaskan bahwa algoritma media sosial kini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda. Berbagai informasi, hiburan, hingga solusi atas permasalahan pribadi kini lebih sering dicari melalui gawai dibandingkan melalui komunikasi dengan keluarga.

“Kalau anak menghabiskan hampir sembilan jam sehari dengan handphone, maka kita harus bertanya, siapa yang sebenarnya lebih banyak berinteraksi dengan mereka? Orang tua atau perangkat digital?” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wihaji juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah. Ia menceritakan bahwa saat menjabat sebagai Bupati Batang, dirinya menerapkan kebiasaan khusus di keluarga dengan menyediakan waktu tanpa handphone untuk bercengkerama bersama anak dan istri.

“Setiap minggu saya mewajibkan satu jam tanpa handphone. Semua perangkat dikumpulkan, lalu kami ngobrol bersama. Tidak ada gangguan media sosial, tidak ada notifikasi. Hanya keluarga yang saling berbicara,” kenangnya.

Kebiasaan tersebut ternyata memberikan dampak positif dalam membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Bahkan setelah menjabat sebagai menteri dengan berbagai kesibukan nasional, ia tetap berusaha menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berinteraksi dengan keluarganya.

“Kalau dulu satu jam setiap minggu, sekarang saya berusaha satu sampai dua jam setiap hari. Saya masih menyempatkan mengantar anak sekolah dan menggunakan momen itu untuk berbincang. Komunikasi sederhana seperti itu sangat berharga,” jelasnya.

Melalui program GEMAR, Wihaji berharap para ayah semakin aktif terlibat dalam proses pendidikan anak, tidak hanya dalam urusan akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan ketahanan mental. Kehadiran orang tua, khususnya ayah, dinilai memiliki peran strategis dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Kegiatan ini mendapat perhatian dan antusiasme peserta karena menghadirkan pesan yang relevan dengan kondisi keluarga masa kini. Di tengah derasnya arus digitalisasi, Wihaji mengajak seluruh orang tua untuk kembali memperkuat komunikasi dalam keluarga sebagai benteng utama menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Teknologi tidak bisa dihindari, tetapi keluarga harus tetap menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar, bercerita, dan mendapatkan kasih sayang,” pungkasnya.

GEMAR [GERAKAN AYAH MENGAMBILRAPOR ANAK DISEKOLAH ]AULA MAN 1 YOGYAKARTA


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama