Dari Haul Yawawiyyu, Tradisi Saparan, Pasar Malam Bonyokan, Hingga Jejak Islamisasi Jatinom(Seri 1)
![]() |
| Oleh: Pak Bei, pegiat dakwah sosial-budaya, tinggal di Jatinom, Klaten |
Setiap bulan Safar, Jatinom berubah menjadi lautan manusia. Jalan-jalan dipenuhi peziarah dan pengunjung. Ribuan orang berkumpul di sekitar Masjid Besar dan Kompleks Makam Ki Ageng Gribik. Pada puncak acara bakda sholat Jumat, jutaan apem beterbangan dari panggung-panggung penyebaran di Klampeyan pinggir sungai Jatinom. Orang-orang berebut mendapatkannya dengan harapan memperoleh berkah.
Masyarakat mengenal tradisi itu sebagai Saparan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama resminya adalah Haul Yawawiyyu, yakni peringatan tahunan wafatnya Ki Ageng Gribik yang telah berlangsung turun-temurun selama berabad-abad.
Karena diselenggarakan pada bulan Safar, masyarakat kemudian lebih akrab menyebutnya sebagai Saparan.
Namun, sesungguhnya Saparan tidak hanya hidup sebagai ritual haul. Ia juga hadir sebagai peristiwa sosial, ekonomi, dan budaya yang lengkap. Selama kurang lebih satu minggu, Lapangan Bonyokan berubah menjadi pasar malam besar yang selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak dan generasi muda. Dulunya, pasar malam ini bertempat di Oro-Oro Jatinom. Lampu-lampu warna-warni, wahana permainan sederhana, suara musik hiburan, pedagang kaki lima, dan aroma jajanan khas pasar malam menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Jatinom. Bagi sebagian anak-anak, pasar malam Saparan adalah “hari raya kecil” tersendiri, ruang kegembiraan yang hanya datang setahun sekali.
Di titik ini, Saparan tidak lagi hanya soal ziarah dan haul. Ia menjadi ruang ekonomi rakyat, ruang hiburan, sekaligus ruang pertemuan sosial lintas desa dan kecamatan. Namun, di tengah kemeriahan itu, sebuah pertanyaan sederhana tetap muncul:
Siapakah sebenarnya Ki Ageng Gribik?
Pertanyaan ini tampak mudah dijawab. Bukankah makamnya ada di Jatinom? Bukankah kisah-kisah tentang beliau sudah lama beredar di tengah masyarakat?
Akan tetapi, ketika berbagai cerita itu dicermati lebih dalam, kita justru menemukan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Sebagian besar kisah tentang Ki Ageng Gribik hidup dalam tradisi lisan. Sebagian ditulis berdasarkan cerita turun-temurun. Tidak sedikit yang sulit dipertemukan dengan kronologi sejarah yang kita kenal hari ini.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan sejarah resmi Ki Ageng Gribik. Tulisan ini adalah ikhtiar untuk membaca ulang berbagai potongan sejarah yang tercecer dan mencoba menyusunnya dalam kerangka yang lebih masuk akal.
JEJAK MAULANA MALIK MAGHRIBI DI LERENG MERAPI
Dalam kajian sejarah Islam di Jawa, Prof. Hasanu Simon dalam bukunya "Syech Siti Jenar" mengemukakan pandangan bahwa para wali yang dikenal sebagai Walisanga datang dalam beberapa angkatan, angkatan 1-6. Atau, itu bisa juga dipahami sebagaimana Kabinet, ada Kebinet 1 sampai Kabinet 6, pendakwah resmi utusan Kekhalifahan Turki Utsmani. Salah satu tokoh penting dalam narasi ini adalah Maulana Malik Maghribi, seorang ulama yang berasal dari kawasan Maghribi (Afrika Utara). Beliau ada di "kabinet" 1-5, alias beliau berumur cukup panjang dan senior.
Beliau dikenal tidak hanya sebagai ahli agama, tetapi juga memiliki kemampuan membangun masyarakat, terutama di bidang pertanian dan tata kelola komunitas. Itulah makanya, beliau mengambil basis dakwahnya di pedalaman, bukan di pesisir seperti koleganya sesama Walisanga.
Jika hipotesis ini benar, maka sangat masuk akal bila beliau memilih kawasan lereng Merapi sebagai basis dakwah. Wilayah ini subur dan sejak masa pra-Islam sudah menjadi bagian penting dari peradaban Jawa, Mataram Kuno. Dalam kerangka ini muncul dugaan bahwa “Ki Ageng Gribik” pada fase awal adalah pelafalan Jawa dari “Maghribi”. Dengan demikian, Ki Ageng Gribik generasi pertama dapat dipahami sebagai Maulana Malik Maghribi.
MUNGKINKAH ADA LEBIH DARI SATU KI AGENG GRIBIK?
Persoalan mulai muncul ketika berbagai kisah menempatkan Ki Ageng Gribik pada masa yang berbeda-beda.
Ada yang menghubungkannya dengan masa awal Walisanga, ada yang menempatkannya pada zaman Demak dan Pajang, dan ada pula yang menghubungkannya dengan masa Mataram Islam. Jika semua kisah itu dilekatkan pada satu orang, maka Ki Ageng Gribik harus hidup melintasi beberapa abad. Secara historis hal ini sulit diterima.
Karena itu, muncul kemungkinan lain, bahwa Ki Ageng Gribik bukan satu tokoh tunggal, melainkan gelar atau institusi kepemimpinan dakwah Jatinom yang diwariskan lintas generasi.
Dalam kerangka ini:
Ki Ageng Gribik I: Maulana Malik Maghribi
Ki Ageng Gribik II: penerus masa Demak–Pajang, terkait jaringan Sunan Giri (dhuriyah/cucu Sunan Giri)
Ki Ageng Gribik III: tokoh era Mataram Islam, dikaitkan dengan Sultan Agung, haji, dan asal-usul apem
HIPOTESIS APEM DAN TRADISI SAPARAN
Salah satu kisah paling dikenal adalah asal-usul apem.
Dikisahkan bahwa sepulang dari ibadah haji, Ki Ageng Gribik membagikan oleh-oleh kepada masyarakat. Karena jumlahnya terbatas, bahan itu kemudian diolah menjadi makanan sederhana agar bisa dibagikan lebih luas. Dari situlah kue apem menjadi simbol kebersamaan.
Sebagian masyarakat menghubungkan kata apem dengan kata Arab "afwan" yang berarti maaf atau ampunan. Karena itu apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf dan introspeksi spiritual.
Dari sinilah kemudian lahir tradisi Haul Yawawiyyu atau Saparan yang terus bertahan hingga hari ini.
DARI PUSAT DAKWAH MENJADI MASYARAKAT SANTRI
Jatinom berkembang menjadi daerah santri dengan kultur perdagangan yang kuat. Pada awal abad ke-20, para saudagar Jatinom menjadi motor perkembangan Muhammadiyah. Mereka mendirikan pengajian, sekolah, dan amal usaha pendidikan Islam.
Hingga kini, Muhammadiyah Cabang Jatinom termasuk salah satu yang terkuat di Kabupaten Klaten.
Apakah ini kebetulan, atau jejak panjang dari ekosistem dakwah lama?
MENUTUP DENGAN PERTANYAAN
Pada akhirnya, tulisan ini tidak bertujuan memberikan jawaban final.
Pertanyaan tentang siapa Ki Ageng Gribik masih terbuka.
Mungkin beliau satu tokoh besar dalam sejarah Islam Jawa.
Mungkin juga beliau adalah beberapa generasi yang kemudian menyatu dalam ingatan kolektif masyarakat.
Yang jelas, Haul Yawawiyyu bukan sekadar tradisi. Ia adalah jejak sejarah yang hidup.
Ketika apem kembali beterbangan pada bulan Safar nanti, tentu kita bukan akan berebut berkahnya, tetapi justru merenungkan kembali sejarah panjang yang melatarinya.
(bersambung)
Klaten, 22 Juni 2026
